CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Senin, Januari 26, 2009

Gimana komentar kalian tentang pengunduran rilis film Harry Potter and the Half-Blood Prince ?

Rencananya kan mau dirilis 21 November 2008, tapi pihak Warner Bross mengundurkan nya sampai bulan July 2009 (liburan musim panas).
gilaaa, lama banget khan?
yang jelas sih, ini berhubungan mogok massal penulis naskah di Hollywood kemarin.
dan yang jelas gw KECEWA karena bakalan nunggu beberapa bulan lagi untuk nonton Harry potter.

Minggu, Januari 25, 2009

HARRY POTTER lagi......

"Kejahatan adalah hal yang menarik, sebab orang-orang jahat 
mempunyai kekuatan dan kemuliaan dari sudut pandang mereka
sendiri." — J.K.Rowling.

Kembalinya Voldemort ke tampuk kekuasaannya kembali menyebarkan
teror ke seluruh dunia sihir. Tidak ada lagi keamanan, karena satu-
satunya orang yang dia takuti, Dumbledore, telah mati. Kementrian
Sihir berada dalam kekuasaannya, begitu juga Sekolah Sihir Hogwarts
dia kuasai. Kaum penyihir keturunan muggle mendapat ancaman dan
harus mati karena satu kesalahan mereka, lahir sebagai keturunan
muggle.

Di tengah-tengah upayanya mencari cara mengalahkan Harry Potter,
Voldemort tidak menyadari bahwa Horcrux, benda-benda tempat
menyimpan jiwa-jiwanya dan membuatnya tidak bisa mati, satu demi
satu musnah. Muncul kesadarannya bahwa Harry Potter sedang memburu
Horcrux-Horcrux miliknya ketika dia mengetahui bahwa Harry Potter
mencuri Cawan Hufflepuf yang disimpan dalam ruang penyimpanan milik
Bellatrix Lestrange di Bank Gringgots. Voldemort marah ketika
mengetahui bahwa Horcrux-Horcruxnya yang lain hilang dari tempat
penyimpanannya. Dia menyadari bahayanya dan selalu melindungi
Nagini, ular peliharaannya sekaligus Horcrux ke enam, dengan mantra-
mantra sihir. Namun pada akhirnya, Nagini tumbang di tangan Neville
Longbottom dengan pedang Gryffindor.

Saat berhadapan-hadapan di medan tempur, Lord Voldemort dan Harry
Potter sama-sama tidak lagi punya pelindung. Voldemort sudah tidak
lagi memiliki Horcrux dan menjadikannya mortal lagi. Sedangkan Harry
juga tidak berada dalam perlindungan ibunya atau Dumbledore lagi
yang selalu meloloskannya dari serangan Voldemort. Dengan keyakinan
kuat akan menang, Voldemort meluncurkan kutukan Avada Kedavra pada
Harry dengan Tongkat Sihir Tetua yang terbuat dari kayu Elder—salah
satu benda kematian (Deathly Hallow)—yang memiliki kekuatan sihir
berlipat ganda jika dalam genggaman penguasa sejati tongkat tersebut.

PENJAHAT TITISAN
Gara-gara sosok psikopat yang terobsesi dengan kekuasaan dan
keabadian, novel ciptaan J. K. Rowling secara mencengangkan telah
menarik minat banyak orang—tidak hanya anak namun juga orang dewasa—
kecanduan membaca. Tanpa kelahiran Lord Voldemort, pertentangan
kepentingan tidak akan mencuat luas dalam dunia sihir Harry Potter.
Begitu pula seorang pahlawan terpilih—Harry Potter—tidak akan
muncul. Bukankah seorang pahlawan hebat lahir dari campur tangan
penjahat kelas berat?
Lantas, bagaimanakah Rowling menciptakan sosok kejam tanpa rasa
belas kasihan seperti Lord Voldemort? Tentu bagi seorang pengarang
hebat jawabannya bukan karena novelnya membutuhkan tokoh antagonis,
maka dia begitu saja menciptakan tokoh Lord Voldemort yang harus
merefleksikan kejahatan intrinsik (jahat "dari sananya").

Dalam menciptakan tokoh rekaan dalam novelnya, Rowling tidak begitu
saja mengenyampingkan faktor psikologis manusia dari bayi hingga
dewasa. Melalui tokoh Lord Voldemort, dapat pembaca rasakan
pembentukan karakter antagonis yang tak hanya terpengaruh faktor
bawaan (nature), namun juga faktor lingkungan (nurture) dan harapan
masa depan (future).

Dalam novel Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, terlihat
nyata perjalanan seorang bayi tersia-siakan namun memiliki galur
keluarga yang penuh keangkuhan. Masa kecil Tom Marvolo Riddle
dipenuhi dengan perasaan terbuang dan tak berharga. Ibunya
meninggalkannya di panti asuhan karena enggan melanjutkan hidup.
Sedangkan keluarganya tidak ada yang repot-repot mencari
keberadaannya. Seiring bertambah usia, sifat bawaan yang dia dapat
turun temurun dari moyangnya Salazar Slytherin, bahwa dirinya "anak
istimewa", membuatnya angkuh. Apalagi dia memiliki kelebihan menakut-
nakuti orang-orang di panti asuhan.

Ketika bersekolah di Hogwarts, superioritas kompleksnya membubung
menyadari bahwa dia adalah keturunan sang perkasa Salazar Slytherin.
Dia pandai memanipulasi guru-guru dan orang lain untuk menguasai
lingkungan dan mengejar keinginannya. Di usia 17 tahun, tanpa
perasaan dia membalas dendam kepada ayah serta kakek neneknya
sebagai kompensasi inferioritas masa kecilnya.

Psikopatologis yang menjangkiti Tom Riddle akhirnya membawa pada
kebutuhan balas dendam kepada dunia untuk menunjukkan superioritas
anak buangan yang sebenarnya keturunan darah biru. Haus akan harga
diri, Tom yang telah berubah menjadi Lord Voldemort melakukan apa
saja untuk memperoleh kekuasaan abadi. Bahkan dia tega melampiaskan
murka kepada seorang bayi yang diramalkan akan menjatuhkan
kekuasaannya, Harry Potter.

Merasa terabaikan dan terbuang semasa kanak-kanaknya, Lord Voldemort
membenci masa lalu yang membentuknya. Kemudian dia melampiaskan
amarahnya dengan membunuh ayah, kakek, serta neneknya. Apalagi
mengetahui bahwa sebenarnya dia masih memiliki hubungan darah dengan
sang perkasa Salazar Slytherin, kemarahan kepada kaum muggle semakin
menjadi-jadi.

Begitulah Rowling, dengan cantik meramu psikologi tokoh antagonis
utamanya. Lord Voldemort memiliki kekosongan hidup dan kekecewaan
terhadap masa lalu, ditambah pengaruh lingkungan yang membakar
kebenciannya, menyebabkan dia berambisi mencengkeram dunia di bawah
kakinya. Sekaligus secara sadar menyeret dirinya sendiri ke dalam
kehancuran yang fatal.

TAK ADA SEKUEL HARRY POTTER
Buku pamungkas Harry Potter ini tercatat sebagai buku terlaris
sepanjang sejarah. Sebelum tanggal penerbitannya, jumlah pesanan
pertama saja mencapai lebih dari 1,25 juta eksemplar. Rowling
sendiri menyatakan bahwa buku terakhir inilah yang paling dia sukai
karena menurutnya dia menyukai caranya mengakhiri sebuah kisah
dengan cantik.

Memang benar, teknik bercerita Rowling memang sangat sempurna diukur
dari kelihaiannya mengenalkan dunia baru, menggelitik syaraf
petualangan dan mengungkapkan fakta sedikit demi sedikit dalam tujuh
buku berseri dengan rapi dalam satu alur cerita yang kompleks. Dia
telah memainkan peran tidak hanya sebagai seorang pengarang tetapi
juga pendongeng yang dengan sepenuh hati memasukkan jiwa
kecintaannya dalam bercerita sehingga mampu menghidupkan semua
karakter yang telah dia bangun sesuai psikologi tokoh khayalannya
berikut juga para pembaca.

Karena kecintaannya pada Harry Potter dia berniat mengakhirkan Harry
Potter seperti apa yang diinginkannya sejak awal dan bersikeras
tidak akan menambah-nambahi dengan menulis prekuel ataupun sekuel
Harry Potter hanya demi tuntuntan para penggemar. Dia menyatakan
bahwa pada saat cerita Hary Potter berakhir semua latar penting
sudah terungkap. Dia membuktikannya dengan menamatkan kisah Potter
tanpa ending terbuka, sehingga baik dirinya ataupun penulis lain
tidak akan mencoba memperpanjang kisah Harry Potter. Jikalau ada
buku selanjutnya yang dia tulis tentang Harry Potter, dia berniat
membuat ensiklopedia dunia sihir yang berisi konsep dan potongan-
potongan informasi yang tidak dimasukkannya dalam tujuh buku Harry
Potter. Novel-novel selanjutnya yang ingin dia tulis adalah novel
tentang misteri dewasa.

Sulit rasanya mencari-cari kelemahan dari buku yang telah sukses
tujuh seri menggebrak dunia berbukuan, sesulit rasa akhir ketika
pembaca sampai pada pertempuran pamungkas antara Harry Potter dan
Lord Voldemort serta menyelesaikan sebuah kalimat akhir, "Selama
sembilas belas tahun bekas lukanya sudah tidak terasa sakit lagi.
Dan semuanya berjalan lancar.". Tapi rasa sulit berpisah dari kisah
Harry Potter yang telah menyihir seluruh dunia dengan petualangan-
petualangannya, akan terobati ketika pembaca mencermati, mengulang
dan mengulang kembali tujuh seri Harry Potter dan menemukan bahwa
kisah ini memang layak dibaca hingga titik baca penghabisan.(*)

akhir kisah Harry Potter

Yah, begitulah ternyata cara Mbak JK Rowling mengakhiri ceritanya . Sebenernya sih menurut gue ada bagian2 yang maksa, tapi mungkin itu akibat ngga baca langsung sih Bahasa Inggrisnya, males banget deh. Hehe…

Di beberapa halaman terakhir diceritain waktu Harry&Ginny, Ron&Hermione, Malfoy, dan angkatan2 mereka bertemu di Stasiun Kereta Api King’s Cross. Lucunya mereka sedang mengantar anak2 mereka untuk naik kereta api memulai tahun ajaran baru di Hogwarts. Waktu diceritain aja gue senyum-senyum sendiri gitu. :)

Anaknya Harry dan Ginny 3 orang: James, Albus Severus (nama yang keren ya?), dan Lily. Anak Ron ada dua, dan yang paling besar namanya Rose (waktu Ron ngeliat Malfoy mengantar anaknya, Ron bilang ke Rose kalo Rose harus mengalahkan anak Malfoy di segala bidang. Dan Ron bilang kurang lebih, “…dan terima kasih Tuhan, beruntung kau dianugerahi kecerdasan ibumu”). :)

Bagian menyedihkannya, tokoh2 yang mati kalo ga salah Dobby, Fred Weasley, Tonks, Remus Lupin, Moody, dan beberapa tokoh lain yang mungkin gue lupa. Hmmm, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan kan ya? Tapi senangnya, Harry Potter berakhir juga. :)

Btw, Mbak JK Rowling sekarang sekaya apa ya??

Ada hal penting lainnya temen2 : Ternyata Snape tuh ga jahat. Dia membunuh Dumbledore atas permintaan Dumbledore sendiri. Karena Dumbledore juga udah terkena kutukan waktu menghancurkan horcrux yang ada di cincin Mr. Gaunt. Lagi pula Snape melakukan itu untuk menyelamatkan Draco Malfoy yang harus membunuh Dumbledore kalau ga dia dan keluarganya akan dibunuh. Hu..hu.. kayaknya gw juga mesti minta maaf nih sama Snape. Apalagi pas selesai baca buku yang ke-6, gw tuh kessseeell banget sama Snape, karena udah mengkhianati kepercayaanya Dumbledore.

Bocoran yang bilang kalau tante Rowling akan membuat ‘mati’ dua tokoh utama dalam buku ini ternyata ga benar, ceritanya tragis euuy, yang mati ternyata banyak banget, diantaranya :

  1. Mad-Eye Moody
  2. Hedwig
  3. Rufus Scrimgeour, Minister of Magic
  4. Gregorovitch, the wandmaker who made Krum's wand
  5. Dobby
  6. Remus John Lupin
  7. Nymphadora Tonks
  8. Fred Weasley
  9. Colin Creevey
  10. Severus Snape
  11. Nagini
  12. Bellatrix Lestrange
  13. Professor Charity Burbage, guru Telaah Muggle
  14. Wormtail
  15. Voldemort terkena kutukan pembalik
Uuh,,
sedih banget ya?

Dunia Harry Potter

Dunia sihir dalam kisah Harry Potter adalah dunia yang ada di dunia kita sekarang tapi juga sekaligus terpisah sama sekali secara sihir. Kalau diperbandingkan, dalam kisah fantasi Narnia dunia sihirnya merupakan dunia alternatif, sementara dalam Lord of the Rings Bumi-Tengah merupakan dunia mite pada masa lampau. Lingkungan sihir Harry Potter dikisahkan berada di tengah-tengah dunia kita saat ini, dengan benda-benda sihir yang mirip dengan benda-benda di lingkup non-sihir. Lembaga-lembaga dan lokasi-lokasinya pun mirip atau malah sama dengan yang berada di dunia nyata, seperti London. Lingkungan sihir sama sekali tidak dapat terlihat oleh populasi non-sihir (atau Muggle, misalnya: Keluarga Dursley).

Bakat sihir adalah kemampuan alami yang telah ada sejak lahir, tidak dapat muncul karena dipelajari. Mereka yang memiliki bakat sihir harus mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah seperti Hogwarts untuk dapat menguasai dan mengontrolnya. Namun demikian, ada kemungkinan anak-anak yang lahir di keluarga penyihir yang hanya memiliki sedikit bakat sihir atau malah tidak ada sama sekali (disebut "Squibs", misalnya Mrs. Figg, Argus Filch). Para penyihir belum tentu dilahirkan dalam keluarga penyihir, dan banyak dari mereka yang dilahirkan dari orang tua (para Muggle) yang sama sekali tidak mengenal sihir. Mereka yang murni berdarah penyihir seringkali tidak terbiasa dengan dunia Muggle, malah terasa lebih aneh bagi mereka ketimbang kita memandang dunia mereka. Namun demikian, dunia sihir dan elemen-elemennya yang menakjubkan itu digambarkan sebagai dunia-yang-sangat-mirip-dengan-dunia-nyata. Salah satu tema utama dalam novel ini adalah keberadaan dunia sihir dan dunia biasa; di mana para tokohnya hidup dalam lingkungan yang memiliki masalah-masalah yang "normal", sekalipun mereka hidup di antara sihir.

seri ke 6 harry potter



Harry Potter and The Half-Blood Prince







Malu sama umur gak sih ? 27 tahun bacanya masih Harry Potter. Tapi menurut survey, yang baca Harry Potter itu mereka dengan range usia 5 hingga 88 tahun lho, kalo gak salah. So, kalo dicompare sama yang 88 tahun itu, nggak jadi malu ah :D

Still di buku 6 ini JK Rowling masih mengandalkan kemampuannya yaitu salah satunya dalam mendeskripsikan sesuatu, seseorang, sebuah tempat, maupun sebuah gerakan. Pernah baca bukunya Kho Ping Ho ? Mirip lah, dengan membaca bukunya imaginasi kita ter-stimulasi untuk membayangkan apa yang telah dideskripsikan di buku itu.

Sempet surprise juga saya kok bisa menghabiskan waktu begitu lama (9 hari) untuk membaca buku setebal 607 halaman ini (in english of course, Bloomsbury version). Padahal buku 5 (terbit Juli 2003) yang 766 halaman (Bloomsbury version) bisa dilalap dalam waktu cuma 4 hari. Tapi udah ketemu jawabannya, ternyata dulu belom punya Dinka, hehehehe... pas baca buku 6 ini Dinka sudah dengan suksesnya bukan hanya memperlambat proses membaca tapi juga melukai buku itu, huuhuhuhuuuu.... yup, robek setengah halaman :(( Padahal buat dia juga ntar koleksinya.

Anyway, kalo review yang saya tulis ini untuk buku 1 mungkin di atas saya akan masukkan ke kategori Children Books. Tapi untuk buku 6 ini saya terpaksa memasukkannya ke kategori Horror. Begitu banyak kematian, begitu banyak kebencian, begitu banyak dendam menggelora, begitu banyaknya darah yang keluar hingga saya ragu apakah buku ini pantas dibaca oleh anak-anak. Meskipun memang kekerasan yang dimaksud dilakukan menggunakan senjata yang bisa dibilang tidak masuk akal, tidak logis, tidak dijual, yaitu wand, tongkat sihir.

Banyak hal tak terduga yang terjadi di buku 6 ini, misalnya identitas asli Severus Snape. Identitas asli yang dimaksud di sini adalah kepada siapa sebenarnya ia berpihak dan siapa orang tuanya sebenarnya. Juga sejarah hidup Tom Riddle atau Voldemort lengkap ada di sini, diceritakan bahwa ia memang telah memiliki jiwa evil dalam dirinya sejak sebelum ia sekolah di Hogwarts yang artinya sebelum ia tau bahwa dirinya adalah seorang penyihir, juga latar belakang keluarganya yang keturunan Slytherin dan mengapa ia takut pada Dumbledore. Saking takutnya ia pada Dumbledore hingga ia memutuskan bahwa membunuh Dumbledore lebih dahulu adalah hal yang sangat penting sebelum ia duel melawan Harry.

Kita sudah tau bahwa rasa cinta dan rela berkorban dari Lily Evans yang diberikan pada Harry di saat-saat terakhir lah yang saat itu bisa menyelamatkan Harry, tapi saat kutukan itu memantul seharusnya Voldemort pun tidak bertahan, tapi ia bertahan meskipun bertransformasi menjadi wujud yang tidak berbentuk. Mengapa ? Ada juga jawabannya di sini :) Apa sih yang telah Voldemort lakukan yang membuat ia berkata di buku 4 bahwa ia telah menjalani lebih dari apa yang pernah dijalani oleh penyihir-penyihir lain dalam usahanya untuk melawan kematian. Jawabannya ada di buku ini, hehehehe.... Seru lah pokoknya.

Trus pasti timbul pertanyaan wajib setiap buku Harry Potter terbit yaitu siapakah guru Defense Against the Dark Arts selanjutnya ? Bisa nebak ? Yep, itulah dia, hehehehe... masa mo dikasih tau sih, ntar gak seru lagi :p

Selain kematian, perkelahian, kebencian dan lainnya di Half-Blood Prince ini juga ada kisah asmaranya :D Akhirnya Harry sadar juga akan perasaannya pada si ..... itu tuh.... :p dikasih tau deh kalo yang ini mah. Harry akhirnya pacaran sama Ginny Weasley tapi di akhir term Harry bilang ke Ginny bahwa mereka tidak mungkin meneruskan hubungan mereka. Harry harus pergi, pergi jauh, mengemban misinya untuk menghancurkan Voldemort. Harry tidak mau Voldemort menggunakan Ginny untuk melemahkan hati Harry, makanya Harry memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan itu :(

Half-Blood Prince. Selamat menebak siapa dia, neither Harry nor Voldemort. Secara keseluruhan seperti saya sudah bilang di atas, deskripsi yang detail membuat buku ini mudah dipahami oleh anak-anak, full of surprises, tegang, unpredictable. Worth to buy. Jujur aja, saya dapat buku ini 2nd lho. Dengan bandrol harga 225.000 rupiah saya beli dari temennya temen 150.000 rupiah saja, denger-denger sih di Gunung Agung 275.000 rupiah malah. Tebal, mahal, tapi laku, :D Aneh yah, di jaman IT gini buku setebal itu masih best seller.