CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Senin, Januari 26, 2009

Gimana komentar kalian tentang pengunduran rilis film Harry Potter and the Half-Blood Prince ?

Rencananya kan mau dirilis 21 November 2008, tapi pihak Warner Bross mengundurkan nya sampai bulan July 2009 (liburan musim panas).
gilaaa, lama banget khan?
yang jelas sih, ini berhubungan mogok massal penulis naskah di Hollywood kemarin.
dan yang jelas gw KECEWA karena bakalan nunggu beberapa bulan lagi untuk nonton Harry potter.

Minggu, Januari 25, 2009

HARRY POTTER lagi......

"Kejahatan adalah hal yang menarik, sebab orang-orang jahat 
mempunyai kekuatan dan kemuliaan dari sudut pandang mereka
sendiri." — J.K.Rowling.

Kembalinya Voldemort ke tampuk kekuasaannya kembali menyebarkan
teror ke seluruh dunia sihir. Tidak ada lagi keamanan, karena satu-
satunya orang yang dia takuti, Dumbledore, telah mati. Kementrian
Sihir berada dalam kekuasaannya, begitu juga Sekolah Sihir Hogwarts
dia kuasai. Kaum penyihir keturunan muggle mendapat ancaman dan
harus mati karena satu kesalahan mereka, lahir sebagai keturunan
muggle.

Di tengah-tengah upayanya mencari cara mengalahkan Harry Potter,
Voldemort tidak menyadari bahwa Horcrux, benda-benda tempat
menyimpan jiwa-jiwanya dan membuatnya tidak bisa mati, satu demi
satu musnah. Muncul kesadarannya bahwa Harry Potter sedang memburu
Horcrux-Horcrux miliknya ketika dia mengetahui bahwa Harry Potter
mencuri Cawan Hufflepuf yang disimpan dalam ruang penyimpanan milik
Bellatrix Lestrange di Bank Gringgots. Voldemort marah ketika
mengetahui bahwa Horcrux-Horcruxnya yang lain hilang dari tempat
penyimpanannya. Dia menyadari bahayanya dan selalu melindungi
Nagini, ular peliharaannya sekaligus Horcrux ke enam, dengan mantra-
mantra sihir. Namun pada akhirnya, Nagini tumbang di tangan Neville
Longbottom dengan pedang Gryffindor.

Saat berhadapan-hadapan di medan tempur, Lord Voldemort dan Harry
Potter sama-sama tidak lagi punya pelindung. Voldemort sudah tidak
lagi memiliki Horcrux dan menjadikannya mortal lagi. Sedangkan Harry
juga tidak berada dalam perlindungan ibunya atau Dumbledore lagi
yang selalu meloloskannya dari serangan Voldemort. Dengan keyakinan
kuat akan menang, Voldemort meluncurkan kutukan Avada Kedavra pada
Harry dengan Tongkat Sihir Tetua yang terbuat dari kayu Elder—salah
satu benda kematian (Deathly Hallow)—yang memiliki kekuatan sihir
berlipat ganda jika dalam genggaman penguasa sejati tongkat tersebut.

PENJAHAT TITISAN
Gara-gara sosok psikopat yang terobsesi dengan kekuasaan dan
keabadian, novel ciptaan J. K. Rowling secara mencengangkan telah
menarik minat banyak orang—tidak hanya anak namun juga orang dewasa—
kecanduan membaca. Tanpa kelahiran Lord Voldemort, pertentangan
kepentingan tidak akan mencuat luas dalam dunia sihir Harry Potter.
Begitu pula seorang pahlawan terpilih—Harry Potter—tidak akan
muncul. Bukankah seorang pahlawan hebat lahir dari campur tangan
penjahat kelas berat?
Lantas, bagaimanakah Rowling menciptakan sosok kejam tanpa rasa
belas kasihan seperti Lord Voldemort? Tentu bagi seorang pengarang
hebat jawabannya bukan karena novelnya membutuhkan tokoh antagonis,
maka dia begitu saja menciptakan tokoh Lord Voldemort yang harus
merefleksikan kejahatan intrinsik (jahat "dari sananya").

Dalam menciptakan tokoh rekaan dalam novelnya, Rowling tidak begitu
saja mengenyampingkan faktor psikologis manusia dari bayi hingga
dewasa. Melalui tokoh Lord Voldemort, dapat pembaca rasakan
pembentukan karakter antagonis yang tak hanya terpengaruh faktor
bawaan (nature), namun juga faktor lingkungan (nurture) dan harapan
masa depan (future).

Dalam novel Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, terlihat
nyata perjalanan seorang bayi tersia-siakan namun memiliki galur
keluarga yang penuh keangkuhan. Masa kecil Tom Marvolo Riddle
dipenuhi dengan perasaan terbuang dan tak berharga. Ibunya
meninggalkannya di panti asuhan karena enggan melanjutkan hidup.
Sedangkan keluarganya tidak ada yang repot-repot mencari
keberadaannya. Seiring bertambah usia, sifat bawaan yang dia dapat
turun temurun dari moyangnya Salazar Slytherin, bahwa dirinya "anak
istimewa", membuatnya angkuh. Apalagi dia memiliki kelebihan menakut-
nakuti orang-orang di panti asuhan.

Ketika bersekolah di Hogwarts, superioritas kompleksnya membubung
menyadari bahwa dia adalah keturunan sang perkasa Salazar Slytherin.
Dia pandai memanipulasi guru-guru dan orang lain untuk menguasai
lingkungan dan mengejar keinginannya. Di usia 17 tahun, tanpa
perasaan dia membalas dendam kepada ayah serta kakek neneknya
sebagai kompensasi inferioritas masa kecilnya.

Psikopatologis yang menjangkiti Tom Riddle akhirnya membawa pada
kebutuhan balas dendam kepada dunia untuk menunjukkan superioritas
anak buangan yang sebenarnya keturunan darah biru. Haus akan harga
diri, Tom yang telah berubah menjadi Lord Voldemort melakukan apa
saja untuk memperoleh kekuasaan abadi. Bahkan dia tega melampiaskan
murka kepada seorang bayi yang diramalkan akan menjatuhkan
kekuasaannya, Harry Potter.

Merasa terabaikan dan terbuang semasa kanak-kanaknya, Lord Voldemort
membenci masa lalu yang membentuknya. Kemudian dia melampiaskan
amarahnya dengan membunuh ayah, kakek, serta neneknya. Apalagi
mengetahui bahwa sebenarnya dia masih memiliki hubungan darah dengan
sang perkasa Salazar Slytherin, kemarahan kepada kaum muggle semakin
menjadi-jadi.

Begitulah Rowling, dengan cantik meramu psikologi tokoh antagonis
utamanya. Lord Voldemort memiliki kekosongan hidup dan kekecewaan
terhadap masa lalu, ditambah pengaruh lingkungan yang membakar
kebenciannya, menyebabkan dia berambisi mencengkeram dunia di bawah
kakinya. Sekaligus secara sadar menyeret dirinya sendiri ke dalam
kehancuran yang fatal.

TAK ADA SEKUEL HARRY POTTER
Buku pamungkas Harry Potter ini tercatat sebagai buku terlaris
sepanjang sejarah. Sebelum tanggal penerbitannya, jumlah pesanan
pertama saja mencapai lebih dari 1,25 juta eksemplar. Rowling
sendiri menyatakan bahwa buku terakhir inilah yang paling dia sukai
karena menurutnya dia menyukai caranya mengakhiri sebuah kisah
dengan cantik.

Memang benar, teknik bercerita Rowling memang sangat sempurna diukur
dari kelihaiannya mengenalkan dunia baru, menggelitik syaraf
petualangan dan mengungkapkan fakta sedikit demi sedikit dalam tujuh
buku berseri dengan rapi dalam satu alur cerita yang kompleks. Dia
telah memainkan peran tidak hanya sebagai seorang pengarang tetapi
juga pendongeng yang dengan sepenuh hati memasukkan jiwa
kecintaannya dalam bercerita sehingga mampu menghidupkan semua
karakter yang telah dia bangun sesuai psikologi tokoh khayalannya
berikut juga para pembaca.

Karena kecintaannya pada Harry Potter dia berniat mengakhirkan Harry
Potter seperti apa yang diinginkannya sejak awal dan bersikeras
tidak akan menambah-nambahi dengan menulis prekuel ataupun sekuel
Harry Potter hanya demi tuntuntan para penggemar. Dia menyatakan
bahwa pada saat cerita Hary Potter berakhir semua latar penting
sudah terungkap. Dia membuktikannya dengan menamatkan kisah Potter
tanpa ending terbuka, sehingga baik dirinya ataupun penulis lain
tidak akan mencoba memperpanjang kisah Harry Potter. Jikalau ada
buku selanjutnya yang dia tulis tentang Harry Potter, dia berniat
membuat ensiklopedia dunia sihir yang berisi konsep dan potongan-
potongan informasi yang tidak dimasukkannya dalam tujuh buku Harry
Potter. Novel-novel selanjutnya yang ingin dia tulis adalah novel
tentang misteri dewasa.

Sulit rasanya mencari-cari kelemahan dari buku yang telah sukses
tujuh seri menggebrak dunia berbukuan, sesulit rasa akhir ketika
pembaca sampai pada pertempuran pamungkas antara Harry Potter dan
Lord Voldemort serta menyelesaikan sebuah kalimat akhir, "Selama
sembilas belas tahun bekas lukanya sudah tidak terasa sakit lagi.
Dan semuanya berjalan lancar.". Tapi rasa sulit berpisah dari kisah
Harry Potter yang telah menyihir seluruh dunia dengan petualangan-
petualangannya, akan terobati ketika pembaca mencermati, mengulang
dan mengulang kembali tujuh seri Harry Potter dan menemukan bahwa
kisah ini memang layak dibaca hingga titik baca penghabisan.(*)

akhir kisah Harry Potter

Yah, begitulah ternyata cara Mbak JK Rowling mengakhiri ceritanya . Sebenernya sih menurut gue ada bagian2 yang maksa, tapi mungkin itu akibat ngga baca langsung sih Bahasa Inggrisnya, males banget deh. Hehe…

Di beberapa halaman terakhir diceritain waktu Harry&Ginny, Ron&Hermione, Malfoy, dan angkatan2 mereka bertemu di Stasiun Kereta Api King’s Cross. Lucunya mereka sedang mengantar anak2 mereka untuk naik kereta api memulai tahun ajaran baru di Hogwarts. Waktu diceritain aja gue senyum-senyum sendiri gitu. :)

Anaknya Harry dan Ginny 3 orang: James, Albus Severus (nama yang keren ya?), dan Lily. Anak Ron ada dua, dan yang paling besar namanya Rose (waktu Ron ngeliat Malfoy mengantar anaknya, Ron bilang ke Rose kalo Rose harus mengalahkan anak Malfoy di segala bidang. Dan Ron bilang kurang lebih, “…dan terima kasih Tuhan, beruntung kau dianugerahi kecerdasan ibumu”). :)

Bagian menyedihkannya, tokoh2 yang mati kalo ga salah Dobby, Fred Weasley, Tonks, Remus Lupin, Moody, dan beberapa tokoh lain yang mungkin gue lupa. Hmmm, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan kan ya? Tapi senangnya, Harry Potter berakhir juga. :)

Btw, Mbak JK Rowling sekarang sekaya apa ya??

Ada hal penting lainnya temen2 : Ternyata Snape tuh ga jahat. Dia membunuh Dumbledore atas permintaan Dumbledore sendiri. Karena Dumbledore juga udah terkena kutukan waktu menghancurkan horcrux yang ada di cincin Mr. Gaunt. Lagi pula Snape melakukan itu untuk menyelamatkan Draco Malfoy yang harus membunuh Dumbledore kalau ga dia dan keluarganya akan dibunuh. Hu..hu.. kayaknya gw juga mesti minta maaf nih sama Snape. Apalagi pas selesai baca buku yang ke-6, gw tuh kessseeell banget sama Snape, karena udah mengkhianati kepercayaanya Dumbledore.

Bocoran yang bilang kalau tante Rowling akan membuat ‘mati’ dua tokoh utama dalam buku ini ternyata ga benar, ceritanya tragis euuy, yang mati ternyata banyak banget, diantaranya :

  1. Mad-Eye Moody
  2. Hedwig
  3. Rufus Scrimgeour, Minister of Magic
  4. Gregorovitch, the wandmaker who made Krum's wand
  5. Dobby
  6. Remus John Lupin
  7. Nymphadora Tonks
  8. Fred Weasley
  9. Colin Creevey
  10. Severus Snape
  11. Nagini
  12. Bellatrix Lestrange
  13. Professor Charity Burbage, guru Telaah Muggle
  14. Wormtail
  15. Voldemort terkena kutukan pembalik
Uuh,,
sedih banget ya?

Dunia Harry Potter

Dunia sihir dalam kisah Harry Potter adalah dunia yang ada di dunia kita sekarang tapi juga sekaligus terpisah sama sekali secara sihir. Kalau diperbandingkan, dalam kisah fantasi Narnia dunia sihirnya merupakan dunia alternatif, sementara dalam Lord of the Rings Bumi-Tengah merupakan dunia mite pada masa lampau. Lingkungan sihir Harry Potter dikisahkan berada di tengah-tengah dunia kita saat ini, dengan benda-benda sihir yang mirip dengan benda-benda di lingkup non-sihir. Lembaga-lembaga dan lokasi-lokasinya pun mirip atau malah sama dengan yang berada di dunia nyata, seperti London. Lingkungan sihir sama sekali tidak dapat terlihat oleh populasi non-sihir (atau Muggle, misalnya: Keluarga Dursley).

Bakat sihir adalah kemampuan alami yang telah ada sejak lahir, tidak dapat muncul karena dipelajari. Mereka yang memiliki bakat sihir harus mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah seperti Hogwarts untuk dapat menguasai dan mengontrolnya. Namun demikian, ada kemungkinan anak-anak yang lahir di keluarga penyihir yang hanya memiliki sedikit bakat sihir atau malah tidak ada sama sekali (disebut "Squibs", misalnya Mrs. Figg, Argus Filch). Para penyihir belum tentu dilahirkan dalam keluarga penyihir, dan banyak dari mereka yang dilahirkan dari orang tua (para Muggle) yang sama sekali tidak mengenal sihir. Mereka yang murni berdarah penyihir seringkali tidak terbiasa dengan dunia Muggle, malah terasa lebih aneh bagi mereka ketimbang kita memandang dunia mereka. Namun demikian, dunia sihir dan elemen-elemennya yang menakjubkan itu digambarkan sebagai dunia-yang-sangat-mirip-dengan-dunia-nyata. Salah satu tema utama dalam novel ini adalah keberadaan dunia sihir dan dunia biasa; di mana para tokohnya hidup dalam lingkungan yang memiliki masalah-masalah yang "normal", sekalipun mereka hidup di antara sihir.

seri ke 6 harry potter



Harry Potter and The Half-Blood Prince







Malu sama umur gak sih ? 27 tahun bacanya masih Harry Potter. Tapi menurut survey, yang baca Harry Potter itu mereka dengan range usia 5 hingga 88 tahun lho, kalo gak salah. So, kalo dicompare sama yang 88 tahun itu, nggak jadi malu ah :D

Still di buku 6 ini JK Rowling masih mengandalkan kemampuannya yaitu salah satunya dalam mendeskripsikan sesuatu, seseorang, sebuah tempat, maupun sebuah gerakan. Pernah baca bukunya Kho Ping Ho ? Mirip lah, dengan membaca bukunya imaginasi kita ter-stimulasi untuk membayangkan apa yang telah dideskripsikan di buku itu.

Sempet surprise juga saya kok bisa menghabiskan waktu begitu lama (9 hari) untuk membaca buku setebal 607 halaman ini (in english of course, Bloomsbury version). Padahal buku 5 (terbit Juli 2003) yang 766 halaman (Bloomsbury version) bisa dilalap dalam waktu cuma 4 hari. Tapi udah ketemu jawabannya, ternyata dulu belom punya Dinka, hehehehe... pas baca buku 6 ini Dinka sudah dengan suksesnya bukan hanya memperlambat proses membaca tapi juga melukai buku itu, huuhuhuhuuuu.... yup, robek setengah halaman :(( Padahal buat dia juga ntar koleksinya.

Anyway, kalo review yang saya tulis ini untuk buku 1 mungkin di atas saya akan masukkan ke kategori Children Books. Tapi untuk buku 6 ini saya terpaksa memasukkannya ke kategori Horror. Begitu banyak kematian, begitu banyak kebencian, begitu banyak dendam menggelora, begitu banyaknya darah yang keluar hingga saya ragu apakah buku ini pantas dibaca oleh anak-anak. Meskipun memang kekerasan yang dimaksud dilakukan menggunakan senjata yang bisa dibilang tidak masuk akal, tidak logis, tidak dijual, yaitu wand, tongkat sihir.

Banyak hal tak terduga yang terjadi di buku 6 ini, misalnya identitas asli Severus Snape. Identitas asli yang dimaksud di sini adalah kepada siapa sebenarnya ia berpihak dan siapa orang tuanya sebenarnya. Juga sejarah hidup Tom Riddle atau Voldemort lengkap ada di sini, diceritakan bahwa ia memang telah memiliki jiwa evil dalam dirinya sejak sebelum ia sekolah di Hogwarts yang artinya sebelum ia tau bahwa dirinya adalah seorang penyihir, juga latar belakang keluarganya yang keturunan Slytherin dan mengapa ia takut pada Dumbledore. Saking takutnya ia pada Dumbledore hingga ia memutuskan bahwa membunuh Dumbledore lebih dahulu adalah hal yang sangat penting sebelum ia duel melawan Harry.

Kita sudah tau bahwa rasa cinta dan rela berkorban dari Lily Evans yang diberikan pada Harry di saat-saat terakhir lah yang saat itu bisa menyelamatkan Harry, tapi saat kutukan itu memantul seharusnya Voldemort pun tidak bertahan, tapi ia bertahan meskipun bertransformasi menjadi wujud yang tidak berbentuk. Mengapa ? Ada juga jawabannya di sini :) Apa sih yang telah Voldemort lakukan yang membuat ia berkata di buku 4 bahwa ia telah menjalani lebih dari apa yang pernah dijalani oleh penyihir-penyihir lain dalam usahanya untuk melawan kematian. Jawabannya ada di buku ini, hehehehe.... Seru lah pokoknya.

Trus pasti timbul pertanyaan wajib setiap buku Harry Potter terbit yaitu siapakah guru Defense Against the Dark Arts selanjutnya ? Bisa nebak ? Yep, itulah dia, hehehehe... masa mo dikasih tau sih, ntar gak seru lagi :p

Selain kematian, perkelahian, kebencian dan lainnya di Half-Blood Prince ini juga ada kisah asmaranya :D Akhirnya Harry sadar juga akan perasaannya pada si ..... itu tuh.... :p dikasih tau deh kalo yang ini mah. Harry akhirnya pacaran sama Ginny Weasley tapi di akhir term Harry bilang ke Ginny bahwa mereka tidak mungkin meneruskan hubungan mereka. Harry harus pergi, pergi jauh, mengemban misinya untuk menghancurkan Voldemort. Harry tidak mau Voldemort menggunakan Ginny untuk melemahkan hati Harry, makanya Harry memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan itu :(

Half-Blood Prince. Selamat menebak siapa dia, neither Harry nor Voldemort. Secara keseluruhan seperti saya sudah bilang di atas, deskripsi yang detail membuat buku ini mudah dipahami oleh anak-anak, full of surprises, tegang, unpredictable. Worth to buy. Jujur aja, saya dapat buku ini 2nd lho. Dengan bandrol harga 225.000 rupiah saya beli dari temennya temen 150.000 rupiah saja, denger-denger sih di Gunung Agung 275.000 rupiah malah. Tebal, mahal, tapi laku, :D Aneh yah, di jaman IT gini buku setebal itu masih best seller.

Sabtu, Januari 17, 2009

Tips "N" Tricks jago bikin puisi.
Pastiin lo dah tau mau bikin puisi kayak gimana.

Pastiin lo dah nemuin feeling yang pas untuk puisi yg akan lo buat.
lo enggak usah ragu untuk tulis SKETSA puisi di kertas buram. Maksudnya, biar mempermudah lo untuk mengkoreksi diksi atau hal2 lain yg bisa membuat puisi tersebut menjadi KLOP.
Tulis kembali hasil revisi puisi dari kertas buram ke media yang ingin kalian sampaikan via puisi tersebut. Misalnya, kirim via email ke teman2 Sobat lo, atau di ajukan ke Penerbit2 yang kompeten & memiliki KOLOM tersendiri untuk puisi.
lo enggak usah ragu untuk minta saran/kritik dari Teman, Sahabat, atau bahkan keluarga lo semua.

Sabtu, Januari 10, 2009

10 Cara Asyik Jadi Harry Potter Freaks

Berniat jadi Harry Potter Freaks tapi belum kesampaian? Baca dulu guide-nya di bawah ini!

Sebagian dari kita mungkin sudah jadi Harry Potter Freaks, yaitu fans berat Harry Potter dengan dunia ajaibnya. Sebagian lagi mungkin pengin banget jadi Harry Potter Freaks, tapi belum kesampaian. Entah itu gara-gara belum selesai baca bukunya, ketinggalan nonton filmnya, atau belum sempat mengoleksi merchandise-nya. Tapi jangan takut, belum ketinggalan kok menjadi seorang Harry Potter Freaks. Ada contekannya nih!

1. Baca dan koleksi bukunya

Ini syarat paling utama kalau ingin jadi Harry Potter Freaks. Tokoh Harry Potter ini kan aslinya memang tercipta dalam buku karangan JK Rowling. Sampai sekarang sudah ada enam buku yang terbit. Kalau baca, mesti teratur dari buku satu ke buku berikutnya, soalnya kan ceritanya bersambung terus. Kalau sampai lompat satu buku, misalnya, mustahil kita bakal paham isi buku berikutnya.

Mau baca bahasa Indonesia atau bahasa Inggris enggak masalah, yang penting kita pilih yang bikin kita enjoy bacanya. Kalau perlu malah baca dua-duanya. Soalnya, ada sejumlah kata, istilah, atau nama yang lebih lucu kalau kita baca di versi Inggris-nya. Masih ingat buku-buku yang harus dimiliki Harry Potter cs ketika diajar oleh Profesor Gilderoy Lockhart di buku kedua, Harry Potter and The Chamber of Secrets? Ada Travels With Trolls, Voyages With Vampire, Wandering With Werewolves, dan lain-lain. JK Rowling memang punya keahlian khusus bikin kata-kata yang rimanya sama di awal atau di akhir kata untuk dijadikan nama, dan ini bakal beda kalau sudah diterjemahkan ke dalam versi bahasa Indonesia.

2. Bikin kutipan favorit

Kalau baca buku Harry Potter, banyak banget kata yang inspiratif dan menggugah. Dari isu-isu persahabatan, keberanian, sampai mengakui kesalahan. Masih ingat apa yang dikatakan Profesor Dumbledore kepada Neville Longbottom karena keberaniannya menghalangi Harry, Ron, dan Hermione yang nekat melanggar peraturan untuk mencari batu bertuah di buku pertama Harry Potter and The Sorcerer’s Stone? ”It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies, but just as much (bravery) to stand up to our friends.” Artinya adalah: perlu banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tapi diperlukan keberanian yang sama banyaknya untuk menghadapi teman-teman kita sendiri.

Kutipan yang asyik juga enggak selalu yang filosofis, yang kocak-kocak juga banyak. Masih ingat kata-kata Hermione kepada Ron dan Harry yang dianggapnya punya hobi melanggar peraturan di buku pertama? ”If you two don’t mind, I’m going to bed before either of you come up with another clever idea to get us killed!…or worse EXPELLED!” Ck-ck-ck, Hermione yang genius menganggap dikeluarkan dari Hogwarts itu lebih parah dari kematian, hi-hi-hi!

3. Nonton dan mengoleksi filmnya

Pasti tahu kalau serial Harry Potter sudah dibuat filmnya oleh Warner Bros Studio. Nah, sampai sekarang sudah tiga serial buku yang diangkat ke layar lebar, yaitu Harry Potter and The Sorcerer’s Stone, Harry Potter and The Chamber of Secrets, dan Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (film keempat, Harry Potter and The Goblet of Fire, sedang dalam proses editing dan bakal dirilis sekitar bulan November 2005). Sempat atau enggak menonton versi layar lebarnya di bioskop dulu, boleh juga sekarang mulai mengoleksi film-film ini dalam bentuk VCD atau kalau punya uang lebih, DVD.

Kalau sudah nonton, bisa mulai bikin daftar adegan-adegan favorit. Di film Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, misalnya, pertarungan Harry melawan Dementor untuk melindungi Sirius Black di pinggir danau Hogwarts berhasil menggabungkan nuansa tegang, serem, dan sedih sekaligus.

Masih ada satu lagi nih, film Harry Potter juga punya original score alias musik pengiring asli hasil karya komposer terkenal, John Williams. Jadi, untuk menghadirkan nuansa Harry Potter meskipun sedang enggak nonton filmnya, kita bisa setel kaset atau CD-nya di kamar kita.

4. Bikin daftar perbedaan antara buku dan film

Semua penggemar Harry Potter tahu, antara buku dan film enggak sama 100 persen. Dan sebagai Harry Potter Freaks, kita juga perlu tahu dong. Perbedaan-perbedaan ini mungkin enggak selalu soal hal-hal yang prinsipiil karena pihak Warner Bros Pictures membuat film dengan pengawasan penuh dari JK Rowling. Lebih banyak mungkin adalah penghilangan sejumlah cerita di buku karena film punya batasan waktu sehingga enggak bisa memuat semua adegan yang ada di buku.

Daftar ini bisa kita buka dengan luka berbentuk kilatan di kening Harry Potter. Di dalam buku memang enggak ditulis secara kata per kata soal lokasi luka Harry, tapi di sampul buku Harry Potter and The Sorcerer’s Stone bisa kita lihat luka ini terlihat tepat di tengah kening Harry. Tapi banyak terjadi perdebatan begitu film Harry Potter pertama ini nongol, karena di situ diperlihatkan luka Harry ada di kening sebelah kanan Harry.

Yang lumayan penting mungkin waktu Harry, Hermione, dan Ron lagi berjuang mendapatkan batu bertuah dengan melalui berbagai tes di tahun pertama mereka di Hogwarts. Di dalam buku, ada lima tes yang harus mereka lalui, tapi yang ada di film cuma empat tes. Bagian yang dihilangkan adalah tes kelima, yaitu Harry dan Hermione yang harus memecahkan teka-teki ramuan demi bisa membuka pintu ke ruang batu bertuah. Hayo, tambah terus daftar ini!

5. Main games-nya

Mau ikut berpetualang bareng Harry dan teman-teman? Bisa banget. Apa pun games yang kita punya, dari Nintendo, playstation, sampai X-Box, ada games Harry Potter-nya. Biasanya, setiap seri games mengikuti filmnya. Di games Harry Potter and The Sorcerer’s Stone, misalnya, kita harus menyelesaikan misi main Quidditch, mengejar hantu Peeves demi mendapatkan barang Harry yang dicuri, mengumpulkan kacang Bertie Botts, sampai mengalahkan Voldemort sebagai misi terakhir. Wahhh, kita jadi penyihir sungguhan nih!

6. Koleksi merchandise-nya

Di Indonesia, lisensi merchandise asli Harry Potter dipegang oleh Warner Bros Pictures sebagai pembuat film Harry Potter. Sejauh ini merchandise resmi yang udah dirilis adalah T-shirt, note-book, wrapping paper (kertas kado), standing character (patung kecil tokoh), syal khas asrama Hogwarts, kertas surat, poster, mug, gantungan kunci, dan masih banyak lagi. Sebagian benda ini bisa kita dapetin di toko buku tertentu atau saat peluncuran film atau buku Harry Potter. Tapi, kalau kita mau benda-benda yang lebih unik, kita bisa surfing di internet dan membeli dengan credit card. Dari kertas jubah, kacamata, tongkat sihir, pelapis dinding, jam tangan, sampai piyama ada lho!

7. Ikutan milis dan klub Harry Potter

Pengin berinteraksi dengan para penggemar Harry Potter lain? Cara yang paling ampuh pasti ikutan milis atau klub Harry Potter yang ada di Indonesia ataupun di dunia. Kita bisa ngobrol apa aja dari A sampai Z tentang Harry Potter. Untuk yang di Indonesia, misalnya, milis yang paling banyak anggotanya adalah indo-harrypotter@yahoogroups.com, harrypotterfansclubindonesia@yahoogroups.com. Asyiknya ikutan milis ini, kita bisa ikutan banyak acara seru, bisa beli buku Harry Potter dengan harga diskon, sampai bisa nitip merchandise kalau ada anggota milis yang jalan-jalan ke luar negeri. Asyik kan?

8. Dandanin komputer kita

Tambah sreg nih kalau kita mendandani komputer kita dengan pernak-pernik Harry Potter, seperti wallpaper atau screensaver. Dua fasilitas ini bisa kita download di situs-situs resmi Harry Potter seperti harrypotter.warnerbros.com, www.scholastic.com, dan lain-lain.

Biar tambah seru, kita bisa juga bikin ID e-mail kita dengan nama-nama tokoh, tempat, atau benda-benda di dalam cerita Harry Potter. Tapi mesti pinter-pinter mengombinasikannya, soalnya sudah banyak orang yang pakai.

9. Bikin situs unik

Banyak banget situs fans Harry Potter di internet. Kalau kita punya keahlian bikin situs, kenapa enggak kita coba bikin situs fans Harry Potter. Biar enggak pasaran, ambil aja tema tertentu yang lebih spesifik. Contohnya kita bikin situs tentang semua makanan dan minuman yang ada di dalam cerita Harry Potter atau bisa juga tentang sistem mata uang di dunia sihir dengan bank Gringotts-nya, atau tentang segala macam binatang unik yang pernah ada di buku Harry Potter.

10. Menghafal mantra

Ini memang agak konyol, tapi asyik banget buat sekadar lucu-lucuan. Ada sejumlah mantra yang bisa ”seolah-olah” kita pakai. Sebelum membuka pintu lift, misalnya, kita ucapkan mantra ”Alohomora”, atau sebelum menyalakan lampu, kita ucapkan mantra ”Lumos”. Dengan sesama Harry Potter Freaks, bisa juga kita gunakan mantra-mantra lain sebagai bahasa rahasia dengan arti yang sudah disepakati, seperti ”Wingardium Leviosa” (mantra pengangkat benda), ”Petrificus Totalus” (mantra pengikat tangan dan kaki), ”Obliviate” (mantra penghapus memori), ”Riddikulus” (mantra untuk mengubah Boggart), sampai ”Expecto Patronum” (mantra untuk menghadirkan sosok pelindung).

Tuh kan, ternyata enggak begitu sulit kok menjadi Harry Potter Freaks! Welcome to the wonderful world of Harry Potter!

Minggu, Januari 04, 2009


Jubah Gaib Harry Potter Nyaris Diwujudkan??

Jubah untuk menghilang milik Harry Potter sebentar lagi akan tersedia lebih dari sekedar kisah fiksi saja. Ilmuwan mengklaim mereka sudah makin dekat saja dengan temuan material yang mampu membuat benda menjadi tak kasat mata.

Ilmuwan dari University of California, Berkeley,pimpinan Xiang Zhang, menjelaskan perkembangan temuan tersebut di jurnal Nature dan Science. Untuk pertamakalinya mereka mendemonstrasikan kemampuan menghilangkan objek tiga dimensi mengunakan material artifisial yang secara tak langsung dipancarkan ke objek. Sebelumnya mereka hanya mampu melakukannya pada objek dua dimensi saja.

Kemajuan ini nyaris mendekati temuan bagaimana membuat objek benda atau manusia tidak terlihat. Jika ini bisa diwujudkan, dunia militer akan sangat terbantu.

Metamaterial

Secara teori, orang bisa melihat suatu objek karena benda tersebut menyebarkan cahaya yang mengenainya, lalu memantulkannya ke mata. Material yang dikenal dengan nama metamaterial, mampu menangkis radar, cahaya atau gelombang lain di sekitar objek.

Metamaterial adalah campuran logam dan materi papan sirkuit yang terdiri dari keramik, teflon atau komposit serat. Benda-benda itu didesain untuk membelokkan cahaya yang kasat mata ke arah lain. Ilmuwan berusaha menggunakannya untuk membelokkan cahaya di sekitar objek sehingga objek itu tidak memantulkan cahaya atau bayangan. Ini berbeda dengan teknologi keamanan yang bukan membuat pesawat tak terlihat, melainkan hanya membuatnya sulit terdeteksi radar sehingga susah dilacak.

Jumat, Januari 02, 2009

wajib di baca

harry potter
Harry Potter merupakan salah satu seri
novel fantasi karya J. K. Rowling dari Inggris mengenai seorang anak laki-laki bernama Harry Potter. Sejak rilis pertama novel ini, Harry Potter dan Batu Bertuah pada tahun 1997 di Inggris, buku ini telah mendapatkan ketenaran dan kesuksesan secara komersial di seluruh dunia, diangkat menjadi film, video game, dan beragam merchandise.

Latar belakang kisah ini kebanyakan berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan berpusat pada pertarungan Harry Potter melawan penyihir jahat Lord Voldemort, yang menggunakan Ilmu Hitam untuk membunuh orangtua Harry.
Kesemua tujuh buku yang direncanakan Rowling dalam seri novel ini telah diterbitkan. Buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran versi asli bahasa Inggris diterbitkan pada 16 Juli 2005, sementara buku ketujuh, Harry Potter dan Relikui Kematian diluncurkan di seluruh dunia pada 21 Juli 2007 (versi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan pada tanggal 13 Januari 2008). Enam buku pertama dalam seri novel ini secara keseluruhan telah terjual lebih dari 325 juta kopi, dan telah diterjemahkan ke lebih dari 63 bahasa.
Atas kesuksesan novel-novelnya ini, Rowling telah menjadi penulis terkaya sepanjang sejarah kesusasteraan.Versi-versi asli dalam bahasa Inggris diterbitkan oleh penerbit Bloomsbury di Inggris Raya, Scholastic Press di Amerika Serikat, Allen & Unwin di Australia, dan Raincoast Books di Canada. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Lima buku pertama telah diangkat menjadi film layar lebar oleh Warner Bros. dan mendulang kesuksesan besar. Film kelima, Harry Potter and the Order of the Phoenix, mulai diambil gambarnya pada Februari 2006, dan dirilis pada 11 Juli 2007 di Amerika Serikat.


Tentang penciptaan Harry Potter

perangko harry potter
Ide tentang Harry Potter pertama kali tercetus dalam pikiran J. K. Rowling ketika menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990. Pada waktu itu, dia baru saja bercerai dan mengambil inisiatif untuk menjadikan Harry Potter sebagai inspirasi hidupnya. Dia menghabiskan waktu di dalam perjalanannya itu dengan memikirkan plot yang lengkap tentang ceritanya itu. Di situs webnya, Rowling menceritakan pengalamannya itu:

Saya telah menulis hampir tanpa jeda sejak umur enam tapi sebelumnya saya tidak pernah merasa begitu bergairah akan suatu gagasan. Saya hanya duduk dan berpikir, selama empat jam (menunggu keterlambatan kereta api), dan semua detel bermunculan di otak saya, dan anak laki-laki ceking berambut hitam dan berkaca mata yang tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir menjadi semakin lama semakin nyata bagi saya.

Pada tahun 1995, buku pertama berjudul Harry Potter and Philosopher's Stone (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Harry Potter dan Batu Bertuah) selesai dibuat dan naskahnya dikirimkan ke beberapa agen. Agen kedua yang dicobanya, Christopher Little, menawari untuk mewakilinya dan mengirimkan naskah itu ke Bloomsbury. Setelah delapan penerbit lainnya menolak Philosopher's Stone, Bloomsbury menawarkan uang muka £3.000 untuk menerbitkannya.[5]
Walaupun Rowling menyatakan bahwa ia tidak memiliki target khusus mengenai umur pembacanya ketika ia mulai menulis buku-buku Harry Potter, penerbitnya pada permulaannya telah menetapkan target pembacanya antara umur sembilan hingga sebelas.Pada malam sebelum penerbitan, Joanne Rowling diminta oleh penerbitnya untuk menggunakan nama samaran yang lebih netral-jender, supaya dapat menarik anak laki-laki dalam jangkauan umur tersebut, karena mereka khawatir bahwa anak laki-laki tidak akan tertarik membaca novel yang mereka ketahui ditulis oleh seorang wanita. Ia memilih untuk menggunakan nama J. K. Rowling (Joanne Kathleen Rowling), mengambil nama neneknya sebagai nama keduanya, karena ia tidak memiliki nama tengah.
Buku pertama Harry Potter diterbitkan di Britania Raya oleh Bloomsbury pada Juli 1997. Di Amerika Serikat buku ini diterbitkan oleh Scholastic pada September 1998, di mana Rowling menerima $105.000 untuk hak penerbitan Amerika Serikat — sebuah nilai yang tidak biasa bagi sebuah buku anak-anak yang dikarang oleh pengarang yang tidak dikenal (pada saat itu).Khawatir bahwa para pembaca di Amerika tidak mengerti kata "philosoper" atau tidak menganggapnya sebagai tema magis (karena "Philosoper's Stone" atau batu filsuf adalah kata dalam bidang alkimia), Scholastic bersikeras untuk mengganti nama buku itu menjadi Harry Potter and the Sorcerer's Stone untuk pasar Amerika.
Selama hampir satu dasawarsa, Harry Potter telah mengalami kesuksesan besar, tidak hanya karena resensi yang positif dan strategi pemasaran penerbit Rowling, tetapi juga karena pembicaraan dari mulut ke mulut di antara para penggemarnya, terutama di antara para remaja laki-laki. Kalangan remaja laki-laki ini menjadi penting, karena selama bertahun-tahun kalangan ini semakin tidak tertarik dengan bacaan yang dianggap ketinggalan jaman ketimbang video game dan internet. Penerbit Rowling berhasil menangkap kegairahan di kalangan remaja laki-laki ini dan segera merilis keempat buku pertama berturut-turut secara cepat, sehingga kegairahan mereka tidak sempat meredup ketika Rowling bermaksud untuk istirahat menulis di antara rilis Harry Potter dan Piala Api dan Harry Potter dan Orde Phoenix, dan dengan segera terbentuklah grup pembaca yang loyal.Seri ini juga mendapatkan para penggemar dewasa, dengan diterbitkannya dua edisi untuk setiap buku Harry Potter (di Kanada dan Britania Raya, tapi tidak di Amerika Serikat). Keduanya memiliki naskah yang sama persis, tetapi dengan sampul yang berbeda, untuk masing-masing edisi anak-anak dan dewasa.

Dunia Harry Potter
Dunia sihir dalam kisah Harry Potter adalah dunia yang ada di dunia kita sekarang tapi juga sekaligus terpisah sama sekali secara sihir. Kalau diperbandingkan, dalam kisah fantasi Narnia dunia sihirnya merupakan dunia alternatif, sementara dalam Lord of the Rings Bumi-Tengah merupakan dunia mite pada masa lampau. Lingkungan sihir Harry Potter dikisahkan berada di tengah-tengah dunia kita saat ini, dengan benda-benda sihir yang mirip dengan benda-benda di lingkup non-sihir. Lembaga-lembaga dan lokasi-lokasinya pun mirip atau malah sama dengan yang berada di dunia nyata, seperti London. Lingkungan sihir sama sekali tidak dapat terlihat oleh populasi non-sihir (atau Muggle, misalnya: Keluarga Dursley).
Bakat sihir adalah kemampuan alami yang telah ada sejak lahir, tidak dapat muncul karena dipelajari. Mereka yang memiliki bakat sihir harus mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah seperti Hogwarts untuk dapat menguasai dan mengontrolnya. Namun demikian, ada kemungkinan anak-anak yang lahir di keluarga penyihir yang hanya memiliki sedikit bakat sihir atau malah tidak ada sama sekali (disebut "Squibs", misalnya Mrs. Figg, Argus Filch). Para penyihir belum tentu dilahirkan dalam keluarga penyihir, dan banyak dari mereka yang dilahirkan dari orang tua (para Muggle) yang sama sekali tidak mengenal sihir. Mereka yang murni berdarah penyihir seringkali tidak terbiasa dengan dunia Muggle, malah terasa lebih aneh bagi mereka ketimbang kita memandang dunia mereka. Namun demikian, dunia sihir dan elemen-elemennya yang menakjubkan itu digambarkan sebagai dunia-yang-sangat-mirip-dengan-dunia-nyata. Salah satu tema utama dalam novel ini adalah keberadaan dunia sihir dan dunia biasa; di mana para tokohnya hidup dalam lingkungan yang memiliki masalah-masalah yang "normal", sekalipun mereka hidup di antara sihir.

Kemurnian darah (Harry Potter):
Para penyihir pada umumnya memandang Muggle dengan sikap merendahkan dan curiga, masalahnya, sikap ini menjadi kefanatikan bagi sebagian kecil penyihir. Mereka yang fanatik ini mengkotak-kotakkan diri mereka atas dasar banyaknya leluhur mereka, di mana penyihir "berdarah-murni" (mereka yang keluarganya seluruhnya adalah penyihir) dianggap sebagai yang paling tinggi, penyihir "berdarah-campuran" (mereka yang memiliki keturunan penyihir dan Muggle) pada tingkat menengah, dan "kelahiran-Muggle" (mereka yang tanpa keturunan penyihir) sebagai yang terendah. Para pendukung kemurnian-darah percaya bahwa hanya mereka yang "berdarah-murni"-lah yang berhak mengontrol dunia sihir, dan tidak menganggap bahwa penyihir "kelahiran-Muggle" sebagai penyihir yang sesungguhnya. Beberapa dari mereka bahkan bertindak terlalu jauh dengan membunuhi para "kelahiran-Muggle" supaya jangan dapat mempelajari sihir. Kebanyakan kaum fanatik ini adalah berdarah-murni, sekalipun perlu dicatat bahwa Voldemort, yang mendukung fanatisme ini, sesungguhnya adalah penyihir berdarah-campuran. Selain itu, sebenarnya hanya tinggal sedikit sekali penyihir yang benar-benar berdarah-murni, oleh karena tanpa menikah dengan populasi Muggle, para penyihir lama kelamaan akan habis. Namun demikian, banyak keluarga penyihir yang menutupi bahwa ada di antara keluarga mereka yang menikahi kaum Muggle. Salah satu contoh keluarga seperti ini adalah dalam keluarga Black.[HP5]

Publikasi Buku The Half-Blood Prince sebelum tanggal peluncuran
Publikasi besar-besaran Half-Blood Prince diwarnai dengan kontroversi yang tak terelakkan dan tidak terduga sebelumnya. Pada Mei 2005, para petaruh di Inggris menangguhkan taruhan mengenai tokoh utama mana yang akan tewas dalam buku tersebut karena kekhawatiran akan adanya petaruh dengan pengetahuan orang-dalam. Sejumlah taruhan besar dibuat untuk kematian Albus Dumbledore, kebanyakan berasal dari Bungay, Suffolk, tempat di mana buku-buku tersebut dicetak. Pertaruhan kemudian dibuka kembali. Kontroversi lainnya termasuk "hak membaca" buku-buku Potter yang tidak sengaja terjual sebelum tanggal peluncurannya, masalah lingkungan mengenai sumber dari kertas yang dipergunakna untuk mencetak jutaan buku tersebut, dan reaksi penggemar terhadap perkembangan plot dan pengungkapan dalam novel tersebut.
Pada awal Juli 2005, Real Canadian Superstore, sebuah toko retail besar di Coquitlam, British Columbia, Kanada, secara tidak sengaja menjual empat belas buku The Half-Blood Prince sebelum tanggal peluncuran yang resmi. Penerbit Kanada, Raincoast Books, mendapatkan perintah keras dari Mahkamah Agung British Columbia untuk melarang pembelinya membaca buku-buku tersebut sebelum tanggal rilis resmi dan melarang mereka untuk membicarakan isinya.
Para pembeli tersebut ditawari sebuah kaus Harry Potter dan buku yang telah ditandatangani penulisnya jika mereka mengembalikan buku-buku itu sebelum 16 Juli 2005.
Pada 15 Juli 2005, kurang dari 12 jam sebelum buku ini resmi diluncurkan, Raincoast memperingatkan koran The Globe and Mail yang mempublikasikan sebuah resensi dari seorang penulis Kanada pada tengah malam, sebagaimana dijanjikan koran tersebut, sebagai pelanggaran atas perintah pengadilan akan kerahasiaan perdagangan. Perintah pengadilan ini dengan segera menjadi berita di berbagai artikel berita yang menyatakan bahwa perintah itu telah melanggar hak-hak asasi. Seorang guru besar hukum Kanada, Michael Geist mengomentari masalah ini dalam weblognya.[rujukan?] Richard Stallman, seorang aktivis lingkungan dan pendiri GPL menyerukan pemboikotan, dan meminta penerbitnya untuk meminta maaf. The Globe and Mail mempublikasikan resensi dari dua orang penulis dari Inggris pada edisi 16 Juli, dan mempublikasikan resensi dari penulis asal Kanada tadi pada situs web mereka pada pukul 9 pagi. Penjelasan juga tersedia di situs web Raincoast.
Selain kontroversi tersebut di atas, pada minggu yang sama, sebuah toko swalayan Chicago, Walgreens, secara tidak sengaja[rujukan?] juga menjual sebuah buku tersebut. Ketika si pembeli membaca mengenai insiden di Kanada di Internet, pembeli ini menyatakan bahwa ia tidak akan mengembalikan buku tersebut, tapi ia tidak akan membaca novel tersebut hingga tanggal rilis Amerika Serikat.

Kamis, Januari 01, 2009

harry potter















hallo
semuanya,
pa kbar?
anak baru ne,
ohya,
buat lo semua yang suka film harry potter,gabung nyok ma gw d sni,qt ngobrol-2 tentang harrpott di sni!!
eitzZ,
lewat comMent tentunya,
okay,
tapi buat lo yang ga/krang ska juga bleh kok gbung,
hehehe